Tulisan ini saya buat bukan untuk mengajak anda yang memegang KTP DKI untuk tidak memilih siapa-siapa di putaran kedua. Tulisan ini bukan kampanye untuk ber-golput-ria. Perlu anda ketahui bahwa dalam politik, para calon penguasa pasti berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang sempurna atau sebagai sang penyelamat yang akan membereskan semua masalah yang ada dengan cara-cara yang ideal. Namun kenyataanya, politik selalu menjadi ajang pemilihan “the lesser evil”, sosok yang lebih tidak jahat atau buruk. Untuk itulah tulisan ini dibuat, sebagai upaya menghadirkan realita kepada anda semua.

 

Kelakuan Seorang Ahok Yang Memuakkan Saya

Jika anda berpikir bahwa kata-kata kasar Ahok yang membuat saya tidak suka, jelas anda salah. Bagi saya, kata-kata Ahok yang selama ini dia tujukan kepada para mafia anggaran justru kelewat sopan. Menurut saya, kata-kata seperti kotoran manusia, masih terlalu mulia jika dibandingkan dengan para parasit republik. Kotoran manusia jelas punya lebih banyak kegunaan dibandingkan mereka.

Untuk kasus ucapan-ucapan Ahok yang mengkomentari agama lain, bagi saya hal tersebut memang kurang cerdas tapi tidak cukup membuat saya antipati pada sosoknya. Saya juga tidak melihat komentar-komentar seperti itu layak masuk dalam ranah hukum pidana. Hal itu hanya menunjukkan bahwa komunikasi politik Ahok sangat buruk, sekaligus tidak berkelas.

Soal reklamasi, menurut saya Ahok hanya menjalankan apa yang sudah diputuskan oleh rezim sebelumnya. Kota-kota besar lain yang berada pinggir laut seperti Dubai dan Singapura juga melakukan reklamasi. Di masa lalu, Singapura juga harus memaksa para nelayannya berhenti bekerja sebagai nelayan dan dikonversi menjadi pedagang atau profesional. Memang begitulah mekanisme terjadinya kemajuan.

Lagian, hidup menjadi nelayan tradisional di laut utara Jakarta bukanlah pekerjaan yang aman. Laut utara Jakarta telah sejak lama tidak lagi ramah bagi nelayan tradisional, dan begitu pula dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Laut utara jawa penuh dengan lalu lintas kapal-kapal besar pengangkut komoditas. Belum lagi ada banyak kilang minyak lepas pantai yang tersebar di sekitar laut utara Jakarta.

Saya juga sebenarnya sependapat dengan Ahok soal gagasan yang untuk merelokasi warga yang menghuni pinggiran sungai. Saya pernah tinggal satu tahun di pinggiran kali Code, yang menurut banyak orang merupakan contoh ideal hunian pinggiran sungai. Saya menyaksikan sendiri ketika banjir menerpa rumah warga akibat lahar dingin letusan gunung Merapi. Hal-hal seperti itu jarang sekaali disuarakan oleh mereka yang mengaku aktivis kemanusiaan. Kenapa? Karena mereka sudah lebih dahulu membangun mental blok bahwa pembangunan adalah kekejaman.

Lantas apa yang membuat saya kesal dengan sosok Ahok? Tidak lain dan tidak bukan adalah kelakuannya melibatkan aparat tentara dalam melakukan penggusuran. Saya paham bahwa penggusuran perlu dilakukan, namun melibatkan tentara adalah sebuah tindakan fasis sekaligus bertentangan dengan semangat reformasi. Ahok juga menggunakan APBD untuk memberikan insentif kepada polisi dan tentara. Sebuah tindakan yang sangat tidak perlu dan menimbulkan banyak pertanyaan. Tindakan penggusuran paksa, kalaupun harus dilakukan, tentu harus sesuai dengan koridor hukum yang ada, bukan dengan lobi ke aparat, apalagi militer. Apa kaitannya tentara militer dengan penataan kota?  

Bibit-bibit fasis ada dalam diri Ahok jelas tidak terbantahkan. Bibit-bibit fasis inilah yang membuat saya tidak suka pada sosok Ahok.

 

Kelakuan Seorang Anies Yang Memuakkan Saya

Jika anda berpikir saya tidak menyukai Anies karena dia dipecat Jokowi, tentu anda sangat keliru. Pengganti Anies tidak punya background yang cukup gemilang, hingga mampu membuat kita yakin bahwa dia diganti hanya karena persoalan kompetensi dan performansi semata. Bahkan, gagasan pertama menteri baru setelah Anies, adalah sekolah seharian penuh. Sebuah gagasan yang bagi saya sama sekali tidak cerdas.

Anies juga punya kinerja yang masih lebih baik dari beberapa kementrian lain. Ujian Nasional pada saat ditangani oleh Anies tentu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Keputusannya membuat UN menjadi bukan satu-satunya penentu kelulusan juga sudah selayaknya diapresiasi. Dan justru, menteri pengganti Anies belum melakukan gebrakan apapun, kecuali gagasan sekolah seharian-nya yang sempat menuai banyak kritikan. Secara umum, Sosok Anies sebelum kampanye pemilihan gubernur DKI, jauh lebih baik dari Ahok.

Kelakuan Anies yang membuat berang justru dia lakukan ketika masuk masa kampanye. Keputusannya mendekati kelompok intoleran dan secara terbuka mengakui bahwa pandangan politiknya sama dengan mereka, adalah sebuah ancaman terhadap demokrasi. Anies boleh saja menggunakan isu kepercayaan sebagai tamengnya, namun atas nama rasionalitas, menurut saya, dia bukan lagi seorang intelektual.

Persoalan menggandeng kelompok intoleran tidak bisa dianggap enteng. Republik ini dibangun dengan semangat demokrasi dan kesamaan hak warga negara. Konsep Indonesia sendiri dirembukkan oleh pemuda-pemudi yang rela melepas identitas-identitas seperti asal suku, agama dan golongan untuk melebur dalam satu identitas, yakni Indonesia. Dan kini, Anies dengan terang-terangan mengaku berada berseberangan dengan gagasan itu.

Seandainya pun Anies menang dalam pemilihan ini, jelas bahwa dia akan terikat pada kelompok pendukungnya. Kelompok intoleran ini memang sudah dikenal dengan berbagai macam tindakan pemaksaan kehendak. Sehingga, di beberapa daerah di luar Jawa, kelompok ini mendapat penolakan yang keras. Akan cukup mengkhawatirkan apabila kita membayangkan, betapa besar nantinya rasa hegemoni kelompok ini bila Anies terpilih. Keputusan untuk bergabung bersama kelompok intoleran inilah yang membuat saya sangat tidak suka pada sosok Anies.

 

Saya tidak akan mengutarakan siapa yang menurut saya “the lesser evil” diantara kedua orang ini. Ahok punya bibit fasis yang bertentangan dengan semangat reformasi. Anies jelas-jelas mengaku menganut sektarianisme dalam berpolitik, yang bertentangan dengan semangat sumpah pemuda dan nilai luhur demokrasi. Setiap orang tentu punya penilaiannya masing-masing. Tulisan ini saya buat agar siapa saja tidak membangun fanatisme buta atas kedua sosok tersebut.

Selamat menjalani pesta demokrasi bagi warga DKI, silahkan memilih siapa “the lesser evil”.

Sumber foto sampul : Panturapos.com

Login or Sign Up to comment this post

Comments (0)