Artikel ini merupakan artikel lanjutan dari terjemahan artikel Lisa Pease yang pernah dimuat di majalah Probe. Judul aslinya : JFK, Indonesia & Freeport Sulphur. Link artikel sebelumnya:

Artikel Terjemahan : JFK, Indonesia, CIA & Sulfur Freeport Bagian I

Artikel Terjemahan : JFK, Indonesia, CIA & Sulfur Freeport Bagian II

 

... Pada bulan Oktober 1965, kegiatan rahasia ini menyegel nasib Sukarno.

 

1965: The Year of Living Dangerously

Setelah kematian Kennedy, Sukarno semakin agresif terhadap Barat. Inggris sibuk membentuk negara baru dari mantan mitra dagang Indonesia, Malaya dan Singapura, yang disebut "Malaysia." Karena daerah ini termasuk wilayah dimana CIA telah meluncurkan beberapa kegiatan pada 1958, keprihatinan Sukarno dapat dibenarkan, dimana ia merasa semakin ketat diawasi. Pada tanggal 1 Januari 1965, Sukarno mengancam akan menarik Indonesia dari PBB jika Malaysia bergabung. Hal itu terjadi dan dia lakukan, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang pernah menarik menarik mundur keluar dari PBB. Menanggapi tekanan AS pada Sukarno untuk mendukung Malaysia, ia berteriak, "persetan dengan bantuan Anda." Dia membangun pasukannya di sepanjang perbatasan Malaysia. Malaysia, takut akan invasi, mengajukan banding ke PBB untuk dukungan. Pada bulan Februari, Sukarno bisa melihat tulisan di dinding:

JAKARTA, Indonesia, 23 Februari (UPI) -Presiden Sukarno menyatakan hari ini bahwa Indonesia tidak lagi mampu punya kebebasan pers. Ia memerintahkan pelarangan surat kabar anti-komunis. ...
"Saya memiliki informasi rahasia yang mengungkapkan bahwa C.I.A. menggunakan pers untuk Promosi Sukarnoisme untuk membunuh Sukarnoisme dan Sukarno," katanya. "Itu sebabnya saya melarang itu." (New York Times, 2/24/65)

Negara menjadi berantakan. Demonstrasi anti-Amerika menjadi makin marak. Indonesia keluar dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pers melaporkan bahwa Sukarno bergerak lebih dekat ke Cina dan Soviet. Sukarno mengancam akan menasionalisasi properti AS yang tersisa, dimana sebagian telah diambil alih, misalnya, salah satu operasi Amerika terbesar di Indonesia, Goodyear Tire dan Rubber Company. Dan kemudian, dalam sebuah langkah yang tak terduga, Singapura memisahkan diri dari Malaysia, melemahkan negara yang baru terbentuk dan berbatasan dengan Indonesia ini.

Dengan kepentingan uang Amerika terancam, semua bantuan asing dikecam, tidak adanya pengaruh melalui IMF atau Bank Dunia, dan pemilik Freeport Gus Long menjabat sebagai Dewan Penasehat Intelijen Luar Negeri Presiden AS saat itu, hanya masalah waktu saja, dan ternyata memang sangat sebentar sebelum adanya tindakan intelijen pada waktu itu.

 

1 Oktober 1965: Kudeta atau Kontra-Kudeta?

INDONESIA BERKATA PLOT UNTUK MENGGULINGKAN SOEKARNO DIGAGALKAN OLEH PANGLIMA TNI; PERTARUNGAN KEKUASAAN MASIH BERLANJUT
KUALA LUMPUR, Malaysia. 1 Oktober-Sebuah usaha untuk menggulingkan Presiden Sukarno digagalkan malam INI oleh unit tentara yang setia kepada Jenderal Abdul Haris Nasution, radio Indonesia mengumumkan. ...
Di Washington, juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan Jumat situasi di Indonesia adalah "sangat bingung." Robert J. McCloskey mengatakan pada konferensi pers Departemen Luar Negeri telah mendapatkan laporan dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, tapi "dari laporan ini tidaklah mungkin untuk mencoba melakukan evaluasi, penjelasan, atau komentar."
Kemarin, sebuah kelompok misterius yang menamakan dirinya Gerakan 30 September menguasai Jakarta. Kolonel Untung, yang telah mengumumkan melalui radio Indonesia bahwa ia adalah pemimpin gerakan, mengatakan kelompok itu menguasai Pemerintah untuk mencegah kudeta "kontra-revolusioner" oleh Dewan Jenderal. (New York Times, 02-03/10/65, International Edition)

Dalam gerakan yang aneh dan berbelit-belit, sekelompok pemimpin militer muda dibunuh sekelompok, pemimpin tua moderat yang, mereka mengklaim, akan-dengan bantuan CIA-melakukan kudeta terhadap Sukarno. Tapi apa yang terjadi setelah dan sebagai reaksi dari kejadian ini membuat Indonesia menjadi salah satu mimpi buruk paling berdarah yang pernah dilihat dunia. Upaya kontra-kudeta ini justru dicap sebagai upaya kudeta, dan dicat semerah mungkin (pengasosiasian terhadap komunis). Kemudian, dalam penyamaran kemarahan bahwa otoritas Sukarno telah terancam, Nasution bergabung dengan Jenderal Suharto menggulingkan "pemberontak." Apa yang dimulai seolah-olah untuk melindungi otoritas Sukarno akhirnya justru menjatuhkan dia itu sepenuhnya. Hasil dari kejadian itu terlalu mengerikan untuk digambarkan dalam kata-kata. Angka korban bervariasi, tetapi konsensus terletak pada kisaran 200.000 sampai lebih dari 500.000 orang tewas akibat dari "kontra-kudeta" ini. Siapa pun yang pernah memiliki hubungan dengan PKI Komunis ditargetkan untuk eliminasi. Bahkan majalah Time memberikan satu gambaran yang akurat tentang apa yang terjadi:

Menurut paparan yang dibawa keluar dari Indonesia oleh diplomat Barat dan wisatawan independen, Komunis, simpatisan Merah dan keluarga mereka sedang dibantai dalam jumlah ribuan. Unit Backlands tentara dilaporkan telah mengeksekusi ribuan Komunis setelah di interogasi di penjara-penjara di pedesaan terpencil. ... Berbekal pisau lebar-berbilah yang disebut parang, gerombolan Muslim merayap di malam hari ke rumah Komunis, membunuh seluruh keluarga dan mengubur mayat di kuburan dangkal. ... Kampanye pembunuhan ini sangatlah kejam di bagian pedesaan Jawa Timur dimana milisi Islam menancapkan kepala korban di tiang dan mereka diarak melalui desa-desa.

Pembantaian dilakukan pada skala yang besar sehingga pembuangan mayat telah menciptakan masalah sanitasi yang serius di Jawa Timur dan Sumatera Utara, di mana saat udara lembab bau busuk daging tercium. Wisatawan dari daerah-daerah memberitahu sungai kecil dan aliran air banyak yang telah benar-benar tersumbat dengan tubuh; transportasi sungai di beberapa tempat menajdi terhambat.

Penuturan sejarah pada kemudian hari sering menggambarkan tindakan ini seperti ini: "Sebuah kegagalan kudeta komunis pada tahun 1965 menyebabkan pengambilalihan anti-komunis oleh militer, di bawah Jenderal Suharto "(Sumber: The Concise Columbia Encyclopedia). Tapi kenyataan sebenarnya jauh lebih kompleks. Indikator persuasif untuk ini terletak pada hal berikut, dikutip dalam sebuah artikel yang luar biasa oleh Peter Dale Scott yang diterbitkan dalam jurnal British Lobster (Musim gugur, 1990). Scott mengutip seorang penulis yang mengutip seorang peneliti, dimana peneliti ini pernah diberi akses ke file dari kementerian luar negeri di Pakistan, kemudian dia menemukan surat dari mantan duta besar yang melaporkan percakapan dengan seorang perwira intelijen Belanda dengan NATO, yang mengatakan, menurut catatan peneliti,

"Indonesia akan jatuh ke pangkuan Barat seperti apel busuk." Badan-badan intelijen Barat, kata dia, akan mengadakan "kudeta komunis prematur ... [yang akan] berakhir dalam kegagalan, memberikan kesempatan yang sah dan populer bagi tentara untuk menghancurkan komunis dan membuat Soekarno tawanan tentara." Laporan duta besar tertanggal Desember 1964.

Kemudian dalam artikel ini, Scott mengutip dari buku The CIA File:

"Yang saya tahu," kata salah satu mantan perwira intelijen dari peristiwa Indonesia, "adalah bahwa Badan menerjunkan beberapa orang top mereka dan bahwa hal-hal rusak berat dan sangat menguntungkan, sesuai dengan yang kita mau."

Ralph McGehee, seorang veteran CIA selama 25 tahun, juga mengimplikasi badan itelijen ini dalam sebuah artikel, masih sebagian disensor oleh CIA, yang diterbitkan dalam The Nation (April 11, 1981):

Untuk menyembunyikan perannya dalam pembantaian orang-orang tak berdosa C.I.A., pada tahun 1968, mengarang cerita palsu tentang apa yang terjadi (kemudian diterbitkan oleh Badan (CIA) sebagai buku, Indonesia-1965: The Coup That Backfired). Buku itu adalah satu-satunya studi politik Indonesia yang pernah dirilis ke publik atas inisiatif Badan sendiri. Pada saat yang sama ketika Badan menulis buku, ia juga menyusun sebuah studi rahasia apa yang sebenarnya terjadi. [Satu kalimat dihapus.] Badan sangat bangga akan keberhasilan [satu kata dihapus] dan direkomendasikan sebagai model untuk operasi masa depan [satu-setengah kalimat dihapus].

 

Freeport Setelah Sukarno

Menurut Forbes Wilson, Freeport telah putus harapan untuk mengembangkan penemuan hebat mereka di Irian Barat. Tapi sementara sisa pers dunia masih berusaha untuk mengungkap informasi berbelit-belit akan kenyataan siapa yang sebenar-benarnya berkuasa, Freeport tampaknya memiliki informasi dalam. Dalam esai yang disebutkan sebelumnya, Scott mengutip kabel (delegasi AS untuk PBB) yang menyatakan bahwa Freeport Sulphur telah mencapai awal "perjanjian" dengan para pejabat Indonesia untuk Ertsberg pada bulan April 1965, bahkan sebelum ada tanda-tanda harapan yang dapat dilihat.

Secara resmi, Freeport tidak punya rencana seperti itu sampai setelah peristiwa Oktober 1965. Tetapi bahkan cerita resmi tampak aneh untuk Wilson. Pada awal November, sebulan hanya setelah peristiwa Oktober, Ketua lama Freeport, Langbourne Williams, yang memanggil Direktur Wilson di kediamannya, menanyakan apakah sekarang waktu yag tepat untuk mengejar proyek mereka di Irian Barat. Wilson melihat bahwa panggilan ini menarik:

Aku begitu kaget sehingga tidak tahu harus berkata apa.

Bagaimana Williams tahu, begitu cepat, bahwa rezim baru merebut kekuasaan? Sukarno masih Presiden, dan akan tetap demikian secara resmi sampai 1967. Orang lingkaran dalam saja yang tahu dari awal bahwa hari Sukarno sudah dekat, dan kekuasaannya lemah. Wilson menjelaskan bahwa Williams mendapat beberapa "informasi pribadi menggembirakan" dari "dua eksekutif Texaco". Perusahaan Long ini telah berhasil mempertahankan hubungan dekat dengan seorang pejabat tinggi rezim Sukarno, Julius Tahija. Dimana Tahijalah yang menengahi pertemuan antara Freeport dan Ibnu Sutowo, Menteri Pertambangan dan Perminyakan. Majalah Fortune mengatakan ini tentang Sutowo (Juli 1973):

Sebagai presiden-direktur Pertamina [perusahaan minyak milik Pemerintah], Letnan Jenderal Ibnu Sutowo menerima gaji hanya $ 250 per bulan, tetapi hidup pada skala pangeran. Dia bergerak di sekitar Jakarta di mobil pribadinya Rolls-Royce Silver Cloud. Dia telah membangun sebuah kompleks keluarga dengan beberapa rumah mewah, yang begitu besar sehingga tamu di pesta pernikahan putrinya hanya bisa mengikuti seluruh acara hanya pada layar televisi.
... Garis antara kegiatan publik dan swasta Sutowo akan tampak kabur dimata Barat. The Ramayan Restaurant di New York [Rockefeller Center- dalam catatan penulis ini], misalnya, didanai oleh berbagai eksekutif perusahaan minyak AS, yang memasang $ 500.000 untuk masuk ke semacam bisnis yang terkenal berisiko tinggi. Agaknya para pendukungnya termotivasi setidaknya sebagian oleh keinginan untuk berada di sisi baik sang Jenderal.

Tapi di luar ini praktek meragukan ini, ada sesuatu yang lain, yang terungkap:

Perusahaan minyak Sutowo yang masih kecil ini memainkan peran penting dalam mendanai operasi-operasi penting [selama peristiwa Oktober 1965].

Mengingat banyak bukti bahwa CIA sangat terlibat dalam operasi ini, tampaknya memiliki kemungkinan yang sama bahwa Sutowo bertindak sebagai saluran untuk dana mereka.

Setelah jatuhnya Sukarno dari kekuasaan, Sutowo membangun sebuah perjanjian baru yang memungkinkan perusahaan-perusahaan minyak untuk menjaga secara substansial lebih besar persentase dari keuntungan mereka. Dalam sebuah artikel berjudul "Oil and Nationalism Mix Beautifully in Indonesia" (Juli 1973), majalah Fortune melabel perjanjian pasca Sukarno sebagai "sangat menguntungkan untuk perusahaan minyak."

Pada tahun 1967, ketika UU Penanaman Modal Asing di Indonesia disahkan, kontrak Freeport adalah yang pertama yang akan ditandatangani. Dengan Kennedy, Sukarno, dan dukungan yang layak untuk nasionalisme Indonesia hengkang, Freeport mulai beroperasi.

Pada tahun 1969, pengambilan suara yang sebelumnya diwajibkan diambil dalam kesepakatan U.N. yang dibantu pengesahannya oleh Kennedy, dimana pertanyaannya adalah apakah Irian Barat ingin merdeka? Di bawah intimidasi berat dan kehadiran militer yang mendalam, Irian "memberikan suara" untuk tetap menjadi bagian dari Indonesia. Posisi Freeport menjadi aman.

 

Bersambung...

Login or Sign Up to comment this post

Comments (0)