Malam minggu syukurlah saya habis tahajjud. Mahu menggoreskan tinta dulu ah sebelum tidur lagi. Tadi lihat berita sekilas di tv, padahal saya anti sekali dengan berita dan sinetron di media elektronik dan media cetak. Tadi di berita tv ada tong kosong nyaring bunyinya namanya Victor Laiskodat.

Saya sebagi warga negara indonesia yang awam akan ormas politik dan neteral dg suasana ormas perpolitikan di republik ini. Tapi saya disini berhak ikut mengkritisi organisasi kemasyarakatan partai politik agar tidak ranju atau ibarat kereta api itu tidak keluar dari relnya. Nah langsung ke pokok permasalahannya. Mengenai perkataannya Bapak Victor Laiskodat yang mengkritisi khilafah ? Apakah Bapak Victor Laiskodat tahu khilafah itu apa ? Khilafah itu kitab hukum pidana negara dan sama dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana di republik ini, misalnya di negara saudi sana setiap hari jumat dilakukan pemotongan tangan bagi orang yang suka nyuri dan di indonesia yang suka nyuri harus di penjara. Contohnya lagi khilafah Pada masa khalifah Presiden Sayidina Umar bin Khattab, ada gubernur Mesir bernama Amr bin ‘Ash. Dia berniat untuk membangun sebuah masjid di daerah yang masih dalam kekuasaannya. Namun keinginannya itu terbentur dengan adanya rumah yang harus digusur, dan rumah tersebut ternyata dimiliki oleh seorang Yahudi tua. Gubernur Amr bin ‘Ash lalu memanggil Yahudi tua tersebut dan meminta agar dia mau menjual tanahnya. Akan tetapi orang Yahudi itu tidak berniat untuk menjual tanahnya. Kemudian gubernur Amr bin ‘Ash memberikan penawaran yang cukup tinggi dengan harga jauh diatas harga pasaran. Akan tetapi tetap saja orang Yahudi itu menolak untuk menjual tanahnya. Gubernur Amr bin ‘Ash kesal dan akhirnya karena berbagai cara telah dilakukan dan hasilnya buntu, maka sang gubernur pun menggunakan kekuasaanya dengan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran dan akan menggusur paksa lahan tersebut, sementara si Yahudi tua itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Orang Yahudi itu berniat mengadukan kesewenang-wenangan gubernur Mesir itu pada khalifah Umar bin Khattab. Akhirnya orang Yahudi itu pergi ke Madinah untuk mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab. Begitu tiba di Madinah, orang Yahudi itu merasa takjub karena Khalifah Umar tidak memiliki istana yang megah. Bahkan dia diterima Umar hanya di halaman Masjid Nabawi di bawah naungan pohon kurma. Selain itu penampilan Khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. “Ada keperluan apa kakek datang ke sini jauh-jauh dari Mesir?” tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar, ramah dan penuh wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Dia bercerita pula tentang bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu, dimana dia sejak muda bekerja keras sehingga dapat membeli sebidang tanah dan membuat gubuk di atas tanah tersebut. “Akan tetapi wahai Khalifah Umar, sungguh sangat menyedihkan. Harta satu-satunya yang aku miliki sekarang telah sirna, karena telah dirampas oleh gubernur Amr bin ‘Ash, kata orang Yahudi itu tanpa rasa takut.” Laporan tersebut membuat Khalifah Umar marah dan wajahnya menjadi merah padam. Yahudi itu diminta untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah lalu diserahkannya tulang itu kepada sang Khalifah. Khalifah Umar lalu menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah. Dan di tengah goresan tersebut ada lagi goresan melintang menggunakan ujung pedang, lalu tulang itu pun diserahkan kembali kepada orang Yahudi lalu berpesan : “Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir dan berikanlah kepada Gubernur Amr bin ‘Ash” jelas Khalifah Umar bin Khattab. Si Yahudi itu kebingungan ketika disuruh membawa tulang yang telah digores dan memberikannya kepada Gubernur Amr bin ‘Ash. Sang gubernur langsung pucat pasi dan menggigil ketika menerima tulang tersebut. Saat itu juga sang gubernur langsung mengumpulkan rakyatnya untuk membangun kembali gubuk yang reot milik orang Yahudi itu. “Bongkar masjid itu!”, teriak Gubernur Amr bin ‘Ash gemetar. Orang Yahudi itu merasa heran dan tidak mengerti tingkah laku Gubernur. “Tunggu!” teriak orang Yahudi itu. “Maaf Tuan, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sehingga Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini? Sungguh saya tidak mengerti.” Gubernur Amr bin ‘Ash memegang pundak orang Yahudi sambil berkata: “Wahai kakek, tulang ini hanyalah tulang biasa dan baunya pun busuk. Akan tetapi tulang ini merupakan peringatan keras terhadap diriku dan tulang ini merupakan ancaman Khalifah Umar bin Khattab. Artinya apa pun pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat kamu akan bernasib sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf Alif yang lurus. Adil di atas, dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya”, jelas Gubernur tersebut.

Jadi khilafah yang di dengungkan bapak victor mengenai semua harus shalat itu salah, karena shalat di dalam keyakinan saya islam itu rukun islam, dan tidak ada kaitannya dengan khilafah hukum pidana negara. Dan you victor laiskodat, shalat enggak shalat itu terserah anda bapak victor dan tidak ada hubungannya dengan khilafah hukum pidana negara. Makanya Bapak Victor Laiskodat kalau tidak tahu khilafah itu lebih baik anda diam, karena itu lebih baik buat anda bapak victor agar tidak menimbulkan fitnah apalagi provokasi. Apalagi anda bapak victor sorry non muslim, jadi tidak pantaslah anda membahas islam. Entah kalau anda bapak victor itu beragama islam, dan membahas islam itu wajar menurut saya. Jadi menurut saya, bapak victor sebagai politikus urusi saja hak-hak rakyat bapak victor di dapilnya bapak victor dan sesuai komisinya bapak victor, urus sajalah undang-undang republik ini dan jangan bawa-bawa agama karena itu tidak sesuai dengan komisi yang bapak victor jalani, bapak victor kan komisi 1, bapak victor tidak pantas mencampuri komisi 8. Apalagi bapak victor memprovokasi mengaitkan khilafah dengan partai komunis indonesia, khilafah itu tidak ada kaitannya dengan partai komunis indonesia, karena partai komunis indonesia itu warga yang enggan ikut sistem pemerintahan ekstrimis indonesia seperti adanya petrus. Dan juga pak victor menyebut bahwa ormas parpol demokrat itu intoleran dan ekstrimis, lah yang mendirikan http://www.demokrat.or.id/2014/08/pada-peresmian-sejumlah-proyek-presiden-sby-berpamitan-ke-masyarakat-papua/ ini apa jidat you bapak victor atau nenek moyang you bapak victor, ini contoh demokrat toleran sesuai undang-undang negara dan demokrat no ekstrimis. Yang justru intoleran dan ekstrim itu mulut you bapak victor, fitnah victor ibarat pepatah bangunkan anjing tidur. Coba kalau you victor diam, mungkin you victor selamat dan tidak akan tamat seperti situasi dan kondisi saat ini dimana ormas parpol demokrat dan ormas parpol lain-lain tidak terima atas fitnahan victor !

NB: Makanya jadi politikus itu klarifikasi dulu sebelum berbicara agar tidak menimbulkan fitnah !

Sekian !

Login or Sign Up to comment this post

Comments (0)