PAK Presiden, dulu saya nyoblos panjenengan. Tentu saya nyoblos dengan harapan Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik; bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih baik; anak-anak kita akan lebih sehat dan mereka yang sekolah menjadi pelajar yang lebih baik; dan semua segi dan sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Saya tetap percaya bahwa panjenengan Pak Presiden adalah orang baik, sederhana, tidak neka-neka, lurus, dan menginginkan semua rakyat menjadi lebih baik. Saya masih tetap punya harapan itu. Saya masih percaya bahwa panjenengan masih ingin mewujudkan janji kampanye dulu.
          Saya baru pulang studi dari Amerika Serikat menjelang pemilihan presiden waktu itu. Seperti puluhan atau bahkan ratusan juta rakyat Indonesia, saya sangat antusias. Saya berdebat dengan begitu banyak orang bahwa Jokowi akan make a difference, membuat perbedaan, untuk Indonesia. Saya meyakinkan mereka yang belum yakin bahwa Jokowi adalah pilihan yang tepat. Lalu ketika panjenengan ternyata memang menang, saya merasa inilah saatnya bagi Indonesia berubah. Sudah tiba waktunya bagi Indonesia untuk menatap masa depan yang lebih baik. Jokowi bukan Ratu Adil, melainkan hanya manusia biasa yang terpilih menjadi Presiden Indonesia yang ketujuh. Jokowi bukan orang sempurna. Dia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi itikad baiknya untuk membuat masyarakat menjadi lebih baik membuat kami rakyat menjatuhkan pilihan pada panjenengan dan mempercayakan negara ini selama lima tahun. Kepercayaan itu bukannya tanpa pamrih. Pamrih kami adalah agar Indonesia lebih baik itu tadi.
          Pak Presiden, saya seorang dosen. Oleh Pemerintah saya ditugaskan di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang, Fakultas Bahasa dan Budaya. Saya sering menyebut diri saya sendiri Ki Dwija Prasaja, seorang guru yang sederhana. Sekalipun saya melek politik, saya selalu membatasi diri saya untuk hanya berbicara tentang profesi saya, yakni soal mengajar dan mendidik mahasiswa sebaik mungkin semampu saya. Politik bukanlah bidang saya. Tetapi sebagai seorang warga negara, akhir-akhir ini saya merasa tidak tahan dengan hiruk-pikuk dan centang-perenang berbagai peristiwa yang terjadi di negara ini. Celakanya, semua peristiwa itu bukan merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara, melainkan justru sebaliknya. Ada indikasi berbagai peristiwa itu justru bisa membahayakan keutuhan negara kita tercinta, NKRI.
          Panjenengan adalah harapan kami, semua rakyat, untuk merasa aman, damai, dan menjadi masyarakat madani yang menghormati orang lain. Kita memiliki Pancasila yang tidak dimiliki oleh negara dan bangsa lain di dunia ini. Tetapi, pertanyaannya, mengapa begitu sulit bagi kita untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Ada yang salah dengan bangsa dan negara kita, Pak Presiden. Mohon maaf, saya tidak bermaksud menggurui. Ini perasaan saya sebagai rakyat. Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia (dari jumlah penduduk), kita seharusnya menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain dalam hal menjunjung tinggi hak asasi manusia, menghormati orang lain, mengedepankan tepa-slira atau tenggang rasa, membela kepentingan kaum lemah dan kecil. Saya tidak ingin terjebak dalam persoalan mayoritas-minoritas dalam pengertian sempit yang saat ini melukai kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Mayoritas-minoritas bukan hanya soal jumlah atau angka, melainkan menyangkut segala segi kehidupan kita, ipoleksosbudhankam. Dengan demikian, mayoritas-minoritas memang merupakan persoalan rumit bin kompleks yang tidak bisa dipecahkan dengan satu kajian parsial, melainkan harus dalam satu kajian komprehensif. Celakanya, persoalan mayoritas-minoritas ini terkoyak begitu menganga atau bahkan vulgar saat ini. Sangat vulgar.
          Pak Presiden, hanya kepada panjenengan kami semua berharap bahwa berbagai persoalan kita sebagai bangsa dan negara ini akan bisa berakhir. Saya mendoakan agar panjenengan selalu sehat, dikaruniai kebijaksanaan dan kesabaran oleh Tuhan YME. Tetapi di sisi lain, panjenengan juga harus menunjukkan bahwa panjenengan adalah nahkoda perahu yang bernama Indonesia. Panjenengan harus menunjukkan bahwa negara ini perlu diatur dengan hukum dan semua perangkatnya. Ada indikasi, ada pihak-pihak tertentu ikut mengatur negara ini, menghakimi sesama warga negara, memvonis kelompok lain dengan sebutan ini dan itu, melarang orang lain melakukan ini dan itu, memaksakan orang lain melakukan atau jangan melakukan ini dan itu. Kewibawaan panjenengan sebagai Presiden Republik Indonesia diuji saat ini. Suara-suara keras terhadap panjenengan atau terhadap kinerja panjenengan sebagai presiden perlu disikapi dengan arif. Boleh jadi di antara suara-suara keras tersebut memang ada yang merupakan kritik yang panjenengan butuhkan. Saya hanya khawatir, kalau tidak ada protes dan tidak ada keberatan, panjenengan bisa terlena dan tidak lagi on the right track dalam membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik. Di sisi lain, panjenengan harus mampu membedakan mana kritik mana caci-maki, mana saran dan usulan yang bersifat membangun dan mana suara yang asal njeplak dan ingin merongrong institusi negara.
          Sebagai rakyat, permohonan saya kepada panjenengan tidak banyak. Buatlah kami, rakyat, setiap hari merasa tenang lahir dan batin, siapa pun kami. Buatlah kami tidak takut menghadapi hidup kami sehari-hari. Buatlah sekolah, tempat kerja, pasar, tempat-tempat yang kami kunjungi, tempat kami beribadah, dan tempat apa saja di mana saja di seluruh penjuru Indonesia menjadi aman. Siapa pun kami, kami berhak mendapatkan rasa aman dan nyaman ini dari negara. Kalau kondisi aman dan nyaman, kami bisa bekerja dengan baik, kami bisa melakukan apa yang menjadi tugas kami dengan maksimal. Sebaliknya, dalam ketakutan, kami tidak akan bisa bekerja dengan maksimal untuk ikut bahu-membahu dengan Pemerintah mewujudkan tujuan negara yang sudah digariskan di dalam UUD 1945. Bukankah ini permohonan normal saja dari rakyat? Kami tidak meminta dolar Amerika turun menjadi 5,000 rupiah karena ini hal yang mustahil saat ini. Kami tidak meminta gaji di negara ini dinaikkan 500 persen. Kami sudah terbiasa hidup apa adanya. Entah bagaimana cara kami, kami harus bisa menghidupi keluarga setiap harinya. Dalam perspektif ekonomi ini, kami tidak mengajukan tuntutan yang tidak realistis. Kami menyadari bahwa posisi Pemerintah pun tidak mudah. Tetapi soal keamanan bagi semua rakyat, negara harus bisa mewujudkannya. Alat-alat negara sudah lengkap. Kita memiliki Polri dan TNI yang hebat dan luar biasa. Mosok Polri dan TNI tidak bisa melindungi semua rakyat? Bisa. Tetapi kenapa masih ada saja para preman yang memaksakan kehendak kepada sebagian rakyat? Jangan diam dalam soal ini Pak Presiden. Bukankah ketika panjenengan masih menjadi Wali Kota di Solo pernah mengatakan bahwa kalau ada pegawai yang tidak patuh pada peraturan bisa langsung ilang? Kenapa sekarang, ketika panjenengan memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar, tidak bisa menghilangkan penyakit kronis dalam masyarakat kita? Saya tidak mengatakan bahwa panjenengan harus memberantas para penjahat kemanusiaan dengan merenggut nyawa mereka. Sama sekali bukan. Panjenengan bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih manusiawi untuk membuat mereka para pelaku kejahatan kemanusiaan sadar bahwa negara Indonesia memiliki hukum dan aturan yang tegas.
          Namun demikian, untuk menunjukkan ketegasan dan kewibawaan institusi Kepresidenan, panjenengan bisa juga bertindak tegas kepada siapa saja yang berani coba-coba merongrong negara. Sekali lagi, saya mohon maaf, saya tidak bermaksud menggurui. Sebagai rakyat saya hanya bisa memohon kepada Pemerintah, kepada panjenengan Pak Presiden. Beberapa peristiwa akhir-akhir ini sudah tidak kondusif lagi. Pak Presiden pasti sudah tahu mana peristiwa yang saya sebut tidak kondusif. Dengan kekuasaan yang ada, dengan hukum dan peraturan yang berlaku, dengan semua alat negara, bukankah dengan mudah Pemerintah bisa mengatasi persoalan-persoalan tersebut? Tetapi kenapa Pemerintah membiarkan rakyat berpolemik yang semakin lama tidak membuat semakin tenteram melainkan semakin meresahkan? Kenapa sebagian rakyat tetap saja dibiarkan hidup dalam kekhawatiran dan ketidakpastian atau bahkan dalam ketakutan?
          Kadang ada keinginan saya sebagai rakyat agar Pemerintah memberikan shock therapy kepada para penjahat kemanusiaan. Apakah mereka dibubarkan, atau kalau perlu di-dor. Namun hingga saat ini Pemerintah belum menunjukkan kekuasannya. Sebagian dari anak bangsa ikut mengatur negara dengan memaksakan keinginan mereka dan dibiarkan saja. Dengan demikian, yang terjadi adalah mereka justru semakin merajalela di negara yang sudah kita sepakati bersama berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang memiliki kebudayaan sendiri dan hanya menyaring kebudayaan asing yang sesuai dengan kepribadian kita. Kita menjadi terkotak-kotak dan persatuan dan kesatuan kita terancam. Saya kira inilah salah satu PR terbesar panjenengan sebagai presiden—merekatkan semua elemen bangsa untuk mewujudkan Indonesia jaya.
          Pak Presiden, demikian yang bisa saya sampaikan kali ini. Panjenengan tahu keinginan kami, harapan kami, dan doa kami untuk bangsa ini. Semoga panjenengan selalu sehat dan bisa bekerja maksimal untuk mewujudkan keinginan kami semua. Janganlah kepercayaan kami panjenengan sia-siakan. Merdeka dan lestari NKRI!

 

Hormat saya,

 

Yosep Margono, PhD.
 
Dosen Fakultas Bahasa dan Budaya UNTAG Semarang

 

Istana Bukit Pandanaran, Senin 12 Desember 2016

Login or Sign Up to comment this post

Comments (0)